BBC, Cilegon – Dua kelompok dari dua wilayah berbeda yang menamakan dirinya sebagai geng Gekgek dan geng Wukwuk terlibat tawuran di Bona Kota Cilegon, Rabu 20 Juni 2022 yang yang lalu. Akibatnya, tiga anggota geng Wukwuk terkena sabetan senjata tajam (sajam) milik anggota geng Gekgek. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun BBC, tawuran terjadi berawal dari komunikasi melalui media sosial (medsos) antara anggota geng Gekgek dan geng Wukwuk. Dari komunikasi itulah, mereka melakukan pertemuan di Bona Kota Cilegon hingga terjadi tawuran yang mengakibatkan ketiga anggota geng Wukwuk terluka terkena Sajam tersebut.

 menuturkan, tawuran yang melibatkan dua kelompok remaja yang terjadi di Cilegon beberapa hari yang lalu itu. Berawal dari komunikasi lewat media sosial (Medsos) dimana lanjut Kapolres dari komunikasi itu terjadilah pertemuan di Bona, Kota Cilegon yang berakhir dengan kejadian tawuran. 

“Kejadian pengeroyokan itu terjadi pada tanggal 20 Juli 2022 kemarin. Kejadiannya berawal dari media sosial (Medsos) secara live antara geng satu (Gegek) dan  geng satunya (Wukwuk) melakukan janjian untuk mengadakan berkelahi (tawuran),” ucap Kapolres Cilegon, AKBP Eko Tejho saat memberikan keterangan pers di halaman Mapolres Cilegon, Rabu (27/7/2022).

Akibat tawuran itu, Kapolres menyampaikan, tiga orang anggota geng Wukwuk menjadi korban sabetan senjata tajam milik geng Gekgek. Satu korban ditemukan di lokasi tawuran dan dua korban berhasil melarikan diri dari kejaran anggota geng Gekgek.

“Kemudian setelah di TKP (Tempat Kejadian Perkara) ditemukan tiga orang ini (Korban) dan kemudian satu orang di tikam, dua yang lainya lari dari kejaran geng Gekgek,” ujar Kapolres.

Ditempat yang sama, Kasat Reskrim Polres Cilegon, AKP Muhammad Nandar mengaku, setelah menerima laporan adanya kejadian tawuran tersebut. Pihaknya langsung bergerak cepat menuju TKP untuk mencari informasi dan mengumpulkan barang bukti.

“Kami dari Satreskrim Polres Cilegon bergerak cepat melaksanakan olah TKP dan mengumpulkan keterangan para saksi dan termasuk CCTV dan alat bukti lainnya,” ucap AKP Nandar.

Setelah dilakukan olah TKP dan mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi yang ada di sekitar lokasi kejadian, AKP Nandar mengaku, langsung memburu para pelaku dan berhasil mengamankan sembilan pelaku yang terlibat dalam tawuran tersebut.

“Dari sembilan orang yang kami amankan, kami tetapkan lima orang tersangka. Dengan undang-undang perlindungan anak, karena korban masih dibawah umur dan undang-undang darurat kepemilikan sajam (senjata tajam) dengan ancaman hukumannya 10 tahun penjara,” ujar AKP Nandar.

AKP Nandar menyampaikan, dari kelima tangan tersangka itu pihaknya mengamankan sejumlah barang bukti. Diantaranya yakni, sembilan senjata tajam, kendaraan yang digunakan untuk tawuran dan beberapa barang bukti yang lainya.

“Kami amankan juga sembilan senjata tajam yang mereka peroleh dari salah satu aplikasi online, yang memang dengan sengaja dan direncanakan untuk membeli barang tersebut untuk digunakan kerusuhan dan penganiayaan,” ujar AKP Nandar.

Adapun mengenai penetapan status tersangka terhadap kelima orang anggota geng Gekgek tersebut, lanjut AKP Nandar, sebagai langkah serius Satreskrim Polres Cilegon dalam melaksanakan tugas sebagai anggota kepolisian Polres Cilegon dalam memberikan rasa aman dan nyaman terhadap masyarakat Cilegon.

“Perlu kami sampaikan perintah tegas dan keras dari Kapolres Cilegon terkait menindak lanjuti kejahatan jalanan seperti geng motor ataupun kelompok -kelompok lainnya yang meresahkan masyarakat harus ditindaklanjuti dengan cepat dan tuntas,” terangnya.

Maka dari itu, AKP Nandar menghimbau kepada para orang tua, tokoh masyarakat, tokoh agama dan lain sebagainya yang ada di Kota Cilegon. Mengajak agar bisa bersama sama menjaga dan mengawasi pergaulan anak-anak remaja di Cilegon agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas maupun kelompok-kelompok yang dapat meresahkan masyarakat.

“Kami sampaikan pula, kepada seluruh orang tua, guru, tokoh masyarakat, tokoh agama bahwa ini merupakan tanggung jawab kita semua. Karena para pelaku dibawa umur 17 tahun hanya dua orang yang sudah dewasa. Maka tugas kita bersama untuk mengawasi dan menjaga anak anak kita agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas dan bergabung dalam kelompok -kelompok yang meresahkan masyarakat,” pungkasnya. (1-2).