BBC, Serang – Terdapat 3 syarat kondisi upaya kesehatan yang harus dipenuhi, yaitu manajemen kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Dari sisi manajemen, perencanaan program harus berlanjut, bukan berbasis proyek yang hanya jangka pendek. Akurasi data menjadi kunci penting bagi perencanaan. Priority setting adalah keahlian yang harus dimiliki para perencana dan tidak ketinggalan, fungsi manajemen (sampai monitoring evaluasi) harus dijalankan dengan cermat dan tepat.
“Terkait pelayanan kesehatan, ketersediaan tenaga, sarana, prasarana (contohnya alat kontrasepsi) menjadi syarat penting. Program juga harus didukung mekanisme yang memadai dan efektif mencapai lapisan terbawah, dan yang ketiga, pemberdayaan masyarakat, partisipasi masayarakat harus digalakkan kembali,” ungkap Kepala dinas Pemberdayaan perempuan, Perlindungan anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AK2B) Sitti Maani Nina, dalam acara dalam rangka bintek kader gerakan sayang ibu berintegrasi dengan program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) di Kota Serang, Jumat 31/3/2017.
Sementara manfaat dari P4K ini, kata Nina adalah meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir, serta meningkatkan peran aktif keluarga dan masyarakat dalam perencanaan persalinan yang aman dan persiapan menghadapi komplikasi dan tanda bahaya kebidanan dan bayi baru lahir bagi ibu, sehingga melahirkan bayi yang sehat.
“Untuk mendukung program tersebut diatas, kami dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Provinsi Banten dapat melaksanakan kegiatan bimtek integrasi program gerakan sayang ibu (GSI) dengan program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K),” kata Nina.
Sedangkan faktor yang mempengaruhi AKB, Nina menyebutkan, menurut data unicef (2001), menurunnya kualitas hidup anak pada usia 3 tahun pertama hidupnya adalah gizi buruk, ibu sering sakit, status kesehatan buruk, kemiskinan, dan diskriminasi gender. Bayi dengan gizi buruk mempunyai resiko 2 kali meninggal dalam 12 bulan pertama hidupnya.
“Terkait AKB, satu faktor penting adalah umur ibu dibawah 20 tahun meningkatkan resiko kematian neonatal, serta usia ibu di atas 35 tahun meningkatkan resiko kematian prenatal (Litbangkes, 1994). Odds ratio AKB dari ibu usia di bawah 20 tahun sebesar 1,4 kali lebih tinggi dari AKB pada ibu usia 20-35 tahun,” sebutnya. (1-1)







