BBC, Serang – Ratusan peserta partisipasi masyarakat untuk kesehahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) II tahun 2017 diminta untuk mensosialisasikan Undang-undang tentang Perempuan dan Anak. Karena diakui masih banyak warga di Indonesia belum mengetahui adanya Undang-undang tersebut. “Saya minta kepada peserta Puspa untuk ikut membantu pemerintah mensosialisasikan Undang-undang Perempuan dan Anak. Karena saat ini masih banyak warga di Indonesia yang belum mengetahui adanya Undang-undang ini,” kata Mentri Pemberdayaan Perempuan dan Anak Republik Indonesia, Yohana Yambise pada pembukaan Temu Nasional Puspa 2017 di Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin 28/8/2017.

Menurutnya berdasarkan pertemuan organisasi-organisasi perempuan belum lama ini angka kekerasan terhadap Perempuan di dunia cukup tinggi. “Karena itu pemerintah butuh peran serta dari semua pihak untuk membantu dalam menurunkan angka tersebut. Salah satunya Undang-undang yang baru disyahkan belum lama ini oleh pemerintah,” tegas Yohana.

Wakil Gubenrur Provinsi Jawa Timur, Saifullah Yusuf menyambut baik atas terselenggaranya kegiatan Puspa 2017 di Kota Surabaya. Karena melalui kesempatan tersebut dipercaya sebagai tuan rumah penyelenggaran kegiatan yang dimaksud. “Saya apresiasi kepada Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atas kepercayaan diselenggarakannya kegiatan ini. Kami berharap para peserta bisa betah selama berada di Surabaya,” katanya.
Wagub Syaifullah mengatakan, Pemprov Jatim juga fokus dalam upaya memberdayakan Perempuan dan perlindungan Anak. Salah satunya yakni dengan menutup 47 lokalisasi yang ada di Jatim, salah satunya adalah Dolly. “Tapi penutupan 47 lokalisasi ini akan dilakukan secara bertahap. Makanya komitmen kami adalah menekan angka kekerasan, menekan angka perdagangan manusia dan menekan kesenjangan ekonomi,” jelas Saifullah.

Deputi partisipasi Masyarakat Kementrian PLA Agustin menambahkan dalam Puspa 2017 ini diselenggarakan dari tanggal 28- 30 Agustus 2017. Dalam kegiatan ini akan dibagi dalam 4 Sesi.
“Empat sesi ini diantaranya sesi pertama adalah Inspirasi, kedua sesi Feildtrip, ketiga sesi Ide Pasar dan terakhir sesi Konfrensi. Dalam sesi Konfrensi nanti akan dipilih 6 orang yang dianggap mampu menyampaikan informasi program tentang Perempuan dan Anak yang dianggap lebih baik,” imbuh Agustin.

lima Peserta Banten Persentasi Sesi Inspirasi

Ratusan peserta temu Nasional Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) II, unjuk Gigi dari seluruh Indonesia dalam sesi Inspirasi yang digelar di Hotel Vasa, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Senin 28/8/2017.

Dari ratusan peserta tersebut terdapat 5 orang diantaranya berasal dari provinsi Banten. Menanggapi sesi inpirasi, salah seorang peserta asal provinsi Banten, Masykur Wahid mengungkapkan presentasi bagi peserta aktif PUSPA 2017 amat strategis untuk berbagi aksi inspiratif dan ide kreatif. “Saya dari utusan Universitas Institut Negeri (UIN) SMH Banten akan berbagi ide kreatif tentang Kampus Aman. Ide ini berangkat dari data riset PSGA UIN SMH Banten kerjasama DP3AKKB Provinsi Banten menunjukkan bahwa korban kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak tertinggi di wilayah Banten daripada 8 kekerasan lainnya dengan799 kasus. Penyebab terbesar tindak kekerasan terjadi terbesar adalah media elektronik, seperti konten porno, dan lain-lain,” kata Masykur.

Untuk itu, kata Masykur kampus aman dibutuhkan hadir untuk memberdayakan perempuan dan melindungi anak dari tindak kekerasan dengan 3 aksi partisipatif dan kolaboratif dengan berbagai stakeholder yang peduli pada perempuan dan anak. “Semoga sesi ini juga bisa menjadi ruangn kami dari Banten untuk belajar aksi inspiratif dan ide kreatif lainnya yang bersinergi untuk perubahan menuju lebih baik dari kondisi perempuan dan anak yg memperihatinkan. Semoga hasil sesi presentasi di PUSPA ini amat perlu ditindaklanjuti di wilayah Banten dalam koordinasi DP3AKKB Provinsi Banten,” ujarnya.

Salah seorang peserta lainnya Solehajati Fadjartini menambahkan dalam sesi presentasi ini dirinya membahas pembangunan kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dengan penangananan terpadu yang efektif. Dalam presentasi ini memberikan gambaran yang telah dilakukan Yayasan Anak Mandiri dalam penanganan ABK dengan menjalin kerjasama dg pemerintah, dunia usaha dan masyarakat umum. “Kegiatan sosial yang telah dilakukan layanan sekolah gratis di Cikande dan Gunungsari, pembagian alat bantu kekhususan diiringi dengan layanan terapi gratis dan edukasi pada keluarga ABK dan pendidik, road show untuk edukasi masyarakat yg bermanfaat juga dalam penjaringan ABK,” katanya.

“Sosialisasi tentang ABK, serta kegiatan parenthing bagi ABK, perintisan sentra usaha ABK (usaha yg dibangun dengan srluruh komponen penyelenggara adalah warga negara berkebutuhan khusus. Kegiatan apresiasi potensi ABK, seperti pameran, pentas seni ataupun unjuk keberbakatan ABK ywng disajikan pada masyarakat umum,” sambung Ibu muda yang biasa disapa Tini tersebut.

Pemprov Banten Apresiasi atas Prestasi Terbaik Puspa Banten

Yayasan Anak Mandiri perwakilan peserta dari provinsi Banten masuk dalam nominasi 6 inspirasi terbaik nasional dalam Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) II di Kota Surabaya, Selasa 29/8/2017.

Kisah inpirasi lembaga Anak Mandiri dipaparkan Solehajati Fadjartini dalam sesi konfrensi dalam kegiatan tersebut.
“Program ini adalah uapaya kepedulian lembaga Anak Mandiri terhadap Anak Berkebutuhan Khusus. Karena selama ini sebagian orang banyak masih beranggapan ABK merupakan aib. Padahal ini adalah anugerah yang juga harus diperhatikan oleh semua pihak,” kata Solehajati.

Yayasan Anak Mandiri dalam penanganan ABK, kata Tini yakni dengan menjalin kerjasama dengan pemerintah, dunia usaha dan masyarakat umum. Kegiatan sosial yqng telah dilakukan layanan sekolah gratis yakni di Cikande dan Gunungsari. Pembagian alat bantu kekhususan diiringi dengan layanan terapi gratis dan edukasi pada keluarga ABK dan pendidik, road show untuk edukasi masyarakat yang bermanfaat juga dalam penjaringan ABK. “Sosialisasi tentang ABK, serta kegiatan parenthing bagi ABK, perintisan sentra usaha ABK. Usaha yang dibangun dengan seluruh komponen penyelenggara adalah warga negara berkebutuhan khusus,” papar Solehajati dalam persentasi konfrensinya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Sitti Maani Nina mengapresiasi atas seluruh peserta Puspa asal Banten, terutama terhadap Ibu Tini yang berhasil menjadi peserta 6 terbaik se-Indonesia.
“Alhamdulillah pada kesempatan Temu Nasional Puspa 2017 yang diselenggarakan dari tanggal 28-30 Agustus 2017 di Kota Surabaya perwakilan dari Provinsi Banten bisa diakui di tingkat Nasional, tentunya ini sangat membanggakan bagi masyarakat Banten. Semoga dengan terpilihnya ibu Sholehjati Suhartini akan menambah motivasi dalam menggalang partisipasi masyarakat secara aktif dalam hal pemberdayaan Perempuan dan perlindungan Anak. Ini adalah prestasi terbaik dan kami dari pemerintah mengapresiasi atas prestasi terbaik yang ditampilkan peserta Puspa asal Banten,” ujar Nina.

Melalui kesempatan ini, Nina menambahkan pihaknya akan terus mendorong partisipasi masyarakat dalam membantu menekan angka kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. Karena Banten termasuk daerah yang perlu terus diorong upaya pencegahan atas prilaku kekerasan kepada Perempuan dan Anak. “Sekaligus kami mengajak semua pihak tidak hanya lembaga pemerintah baik pusat dan daerah namun juga lembaga masyarakat, dunia usaha dan media untuk turut bersama sama terlibat didalam penyelenggaraan Perlindungan Perempuan dan Anak sesuai dengan tugas da kewenangan nya masing,” tukas Nina seraya mengakhiri. (ADVETORIAL)