BBC, Cilegon – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon menggelar rapat finalisasi rencana kontinjensi menghadapi ancaman bencana gempa bumi dan tsunami yang mengakibatkan bencana industri di Aula Bappeda kota Cilegon, Rabu 20/12/2017.
Kepala pelaksana BPBD Kota Cilegon Rasmi Widyani saat ditemui disela sela kegiatan menjelaskan setiap daerah di Kabupaten/ Kota yang ada di Indonesia masing-masing memiliki ciri khas Bencana alam berbeda-beda.
“Setiap daerah masing-masing punya ciri khas bencana, namun untuk di Kota Cilegon ini bencananya seperti, banjir ada, tsunami ada dan ada yang paling lebih menjadi perhatian kami adalah bencana kegagalan tekhnologi,” ungkapnya.
Maka dari itu, kata Rasmi Kota Cilegon nanti akan dijadikan lokasi latihan penanganan bencana ASEAN.
“Kenapa Cilegon dijadikan lokasi untuk latihan ASEAN, karena Cilegon potensi bencananya sangat besar,” kata Rasmi
“Kalau di daerah lain kan bencana longsor ada, banjir ada, gunung meletus juga ada, tsunami juga ada. Namun bencana industri di Kota Cilegon juga ada,” ujarnya.
Rasmi menambahkan bahwa unsur yang berpengaruh dalam menimbulkan terjadinya bencana adalah kerentanan tingkat bahaya dan kesiapan sumber daya manusianya.
“Nah supaya nilai indeks bencananya kecil maka kapasitas manusianya harus tinggi, kapasitas itu apa, ya kapasitas itu yah manusianya,” jelas Rasmi.
Rasmi melanjutkan, kemampuan SDM itu untuk mengelola pencegahan bencana agar sering-sering dilatih dalam menghadapi bencana. Karena jika manusianya sudah mampu be standar itu, maka indeks bencananya pasti akan kecil.
Ditemui ditempat yang sama Kepala seksi penerapan rencana siaga bencana BNPB Kota Cilegon, Dian Andry Puspita Sari mengatakan rapat yang berlangsung untuk menampung apa yang menjadi permasalahan di Kota Cilegon.
“Agar disusun dengan semestinya apa yang kira-kira masih kurang dalam rencana siaga bencana, mumpung masih ada waktu hingga tahun depan, agar diperbaiki dan dibenahi. Kedepan kami akan melakukan uji penanggulangan bencana yang benar-benar menjadi permasalahan di daerah,” ungkap Dian.
Dian menjelaskan bahwa, setiap perusahaan telah memiliki sistem keamanannya dalam penanganan penyebaran kimia yang disebabkan oleh kecelakaan kerja terdapat tiga bagian atau level diantarnya
“Level 1 biasanya masih dapat ditangani oleh perusahaan. Sedangkan Level 2 juga masih bisa, dan yang terahir Level 3 yang belum terjadi, karena sudah ada faktor X nya. Jika tidak ada faktor X (bencana alam) biasanya masih bisa ditanggulangi oleh tim penanggulangan perusahaan. Terkecuali ada faktor tsunami dan gempa bumi, baru provinsi meminta bantuan penanggangan bencana dari pusat,” tukas Dian. (1-2)
































