BBC, Serang – Perekonomian di daerah Provinsi Banten tahun 2017 mengalami peningkatan sebesar 5,90 persen, jika di bandingkan dengan 2016 tercatat 5,53 persen.
Meski begitu pertumbuhan ekonomi Banten tidak dibarengi dengan daya beli petani yang menurun pada triwulan pertama ini. Ini disebabkan para petani Banten harus membayar benih padi lebih tinggi, jika dibandingkan dengan penjualan yang lebih rendah.
“Walaupun perekonomian Banten membaik, tapi tidak bagi petani. Karena daya beli mereka berbanding jauh dengan daya jual,” ujar kepala kantor Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Banten, Budharto Setyawan, disela konfrensi pers Kajian Ekonomi Keuangan Regional (KEKR), Rabu, 7/6/2017.
Budiharto mengatakan, meningkatnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama di 2017, dikarenakan pertumbuhan komsumsi rumah tangga yang meningkat. Sehingga ini berpengaruh terhadap daya beli masyarakat terhadap komsusi rumah tangga menjadi tinggi.
“Bahkan berdasarkan hasil survei kami, pertumbuhan ekonomi di wilayah Banten ini juga telah menduduki posisi kedua setelah jakarta,” katanya.
Setelah selesai bulan Ramadhan, Budiharto menegaskan komsumsi rumah tangga akan menjadi berkurang. Sehingga menyebabkan penurunan pada triwulan ke dua 2017.
“Saya memperkirakan setelah Ramadhan ini akan terjadi penurunan komsumsi, sehingga pada triwulan kedua terjadi penurunan,” tegasnya. (1-1)































