{"id":13034,"date":"2019-11-05T13:37:09","date_gmt":"2019-11-05T13:37:09","guid":{"rendered":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/?p=13034"},"modified":"2019-11-06T02:14:54","modified_gmt":"2019-11-06T02:14:54","slug":"tertinggi-nasional-petani-ikut-sokong-angka-tpt-tertinggi-banten","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/tertinggi-nasional-petani-ikut-sokong-angka-tpt-tertinggi-banten\/","title":{"rendered":"Tertinggi Nasional, Petani Ikut Sokong Angka TPT  Banten"},"content":{"rendered":"\n<p><br> BBC, Serang &#8211; Badan Pusat Statistik (BPS) melansir  Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Dalam rilis yang dikeluarkan BPS menempatkan provinsi menjadi daerah tertinggi se-Indonesia dalam tingkat pengangguran terbuka.  <\/p>\n\n\n\n<p>Kepala BPS provinsi Banten, Adhi Wiriana  di aula BPS Provinsi Banten menyebutkan ada sejumlah penyebab tingginya angka pengangguran di Provinsi Banten saat ini. \u201cPertama karena bulan Februari hingga September ini Banten mengalami kemarau panjang. Akibatnnya banyak petani yang menganggur dan menunggu di rumah sambil berharap hujan turun,\u201d kata Adhi, Selasa (5\/11\/2019). <\/p>\n\n\n\n<p>Penyebab lainnya, kata Adhi ada beberapa industri di provinsi Banten yang merumahkan karyawannya. <br>\n\u201cDiantaranya kasus merumahkan karyawan Krakatau Steel dan tutupya perusahaan Sandratex di Tanggerang Selatan,\u201d jelas Adhi.<\/p>\n\n\n\n<p>Tingginya tingkat pengangguran terbuka ini, Adhi melanjutkan paling banyak disumbang dari Kabupaten Serang.  <br>\n\u201cSebenarnya, tingginya pengangguran ini bukan berarti yang menganggur banyak warga asli daerah tersebut. Di daerah ini kan banyak pabrik, makanya banyak pencari kerja yang berasal dari luar daerah ikut bersaing mencari kerja di daerah tersebut,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Berdasakan data BPS, lanjut Adhi angka pengangguran di Provinsi Banten pada Agustus 2019 ini sebesar 8,11`persen sebenarnya menurun dibandingkan tahun 2018 lalu yang berjumlah 8,52 persen. Tetapi, angka ini menjadi angka tertinggi dibandingkan angka pengangguran nasional yang hanya 5,28 persen.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSebenarnya pemerintah daerah sudah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan angka pengangguran ini, dan memang sudah ada penurunan, tapi upaya daerah lain mungkin lebih&nbsp; canggih sehingga angka pengangguran di Banten masih paling tinggi se-Indonesia,\u201d terang   Adhi.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain Banten, kata Adhi Jawa Barat menduduki peringkat kedua pengangguran tertinggi se-Indonesia. \u201cSebenarnya jumlah pengangguran di Jawa Barat lebih banyak dibandingkan Banten, tetapi jumlah penduduk di Jawa Barat juga lebih banyak lagi dibandingkan Banten,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara berbeda dengan Provinsi Bali yang berdasarkan survey BPS tingkat pengangguran terbukanya malah paling rendah. <br> \u201cKarena di Bali banyak lahan pekerjaan. Di Bali, orang yang nanya tempat aja dan dijawab malah menjadi lahan pekerjaan dan dibayar orang,\u201d ujar Adhi yang mencontohkan profesi guide. Sementara di Banten, profesi seperti ini belum terlalu diminati. (1-1)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BBC, Serang &#8211; Badan Pusat Statistik (BPS) melansir Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Dalam rilis yang dikeluarkan BPS menempatkan provinsi menjadi daerah tertinggi se-Indonesia dalam tingkat pengangguran terbuka. Kepala BPS provinsi Banten, Adhi Wiriana di aula BPS Provinsi Banten menyebutkan ada sejumlah penyebab tingginya angka pengangguran di Provinsi Banten saat ini. \u201cPertama karena bulan Februari hingga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13035,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"tdm_status":"","tdm_grid_status":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":{"0":"post-13034","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-peristiwa"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13034","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13034"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13034\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13042,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13034\/revisions\/13042"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13035"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13034"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13034"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13034"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}