{"id":13352,"date":"2019-12-19T15:10:34","date_gmt":"2019-12-19T15:10:34","guid":{"rendered":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/?p=13352"},"modified":"2019-12-19T15:11:58","modified_gmt":"2019-12-19T15:11:58","slug":"pemkab-serang-kembangkan-budi-daya-ikan-air-tawar-terintegrasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/pemkab-serang-kembangkan-budi-daya-ikan-air-tawar-terintegrasi\/","title":{"rendered":"Pemkab Serang Kembangkan Budi Daya Ikan Air Tawar Terintegrasi"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>BBC, SERANG<\/strong> \u2013 Pemerintah Kabupaten Serang terus berupaya  untuk meningkatkan ekonomi warganya dan  terbiasa mengonsumsi ikan. Hal itu, dilakukan Pemkab Serang dengan mendorong warganya untuk budi daya ikan air tawar. <\/p>\n\n\n\n<p>Wakil Bupati (Wabup) Serang, Pandji Tirtayasa menjelaskan, budi daya ikan untuk mengembangkan potensi wilayah Kabupaten Serang bagian selatan yaitu budi daya ikan air tawar. \u201cKita kembangkan disini model kelompok budi daya ikan air tawar secara terintegrasi,\u201d ungkap Pandji saat meninjau budi daya ikan Kelompok Pembudi Daya Ikan (Pokdakan) Tunas Harapan Kampung Amis Barang, Kecamatan Pabuaran pada Kamis (19\/12\/2019). <\/p>\n\n\n\n<p>Rencananya, Kata Pandji, Budi daya ikan air tawar secara terpadu produksi ikan air tawar dari mulai pemisahan, pembesaran, pemeliharan, dan pemasarannya. Selain itu, Pemkab Serang melalui DKPP memberikan bantuan mesin pencetak pakan ikan air tawar asalkan bahan bakunya tersedia. \u201cSalah satunya membuat ternak cacing untuk di olah sendiri dnegan mesin yang ada,\u201d kata Pandji.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia juga berencana, budi daya ikan air tawar secara terpadu akan dilakukan seluruh desa di Kecamatan Ciomas, Padarincang, dan Baros yang potensi saluran airnya bagus. \u201cKita dorong sentra budi daya ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi,\u201dungkap Pandji.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya,  budi daya ikan air tawar bertujuan mengajarkan masyarakat agar membiasakan diri budaya makan ikan yang memiliki nilai gizi tinggi. Pasalnya, angka gemar makan ikan di Kabupaten Serang masih rendah secara nasional \u201cSecara nasional angka masyarakat gemar makan ikan sebesar 47 kilogram perkapita pertahun, untuk di Kabupaten Serang baru 26 kilo gram perkapita pertahun. Oleh karena itu kita ingin dorong supaya kita bisa melewati angka konsumsi ikan secara nasional,\u201dtutur Pandji.<\/p>\n\n\n\n<p>Kepala DKPP Kabupaten Serang Suhardjo menuturkan, bahwa inovasi budi daya ikan air tawar secara terpadu bertujuan  peningkaan produksi. Karena, jika produksi sudah meningkat konsumsi masyarakat juga akan meningkat. \u201cBudi daya ikan air tawar yang pemasaran masih meningkat itu ikan lele, ikan payung, gurame, emas, arwana, bahkan ikan hias juga banyak. Yang pasti penjualan yang masih tinggi itu ikan lele,\u201dujar Suhardjo.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Serang, Bahrul Ulum mengatakan, dengan adanya budi daya ikan air tawar secara terpadu perlu adanya sinergitas antar organisasi perangkat daerah (OPD). Untuk Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) sebagai pemasaran atau, dan Dinas Kesehatan (Dinkes) dari sektor kesehatan dengan mengonsumsi ikan. \u201cUntuk pemasarannya baik DKPP, Diskoperindag, dan Dinkes berbeda namun tetap tujuannya sama,\u201dujarnya. (1-1)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BBC, SERANG \u2013 Pemerintah Kabupaten Serang terus berupaya untuk meningkatkan ekonomi warganya dan terbiasa mengonsumsi ikan. Hal itu, dilakukan Pemkab Serang dengan mendorong warganya untuk budi daya ikan air tawar. Wakil Bupati (Wabup) Serang, Pandji Tirtayasa menjelaskan, budi daya ikan untuk mengembangkan potensi wilayah Kabupaten Serang bagian selatan yaitu budi daya ikan air tawar. \u201cKita [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13353,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"tdm_status":"","tdm_grid_status":"","footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":{"0":"post-13352","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-serang"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13352","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13352"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13352\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13354,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13352\/revisions\/13354"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13353"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13352"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13352"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13352"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}