{"id":14197,"date":"2020-02-29T09:36:30","date_gmt":"2020-02-29T09:36:30","guid":{"rendered":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/?p=14197"},"modified":"2020-02-29T09:38:26","modified_gmt":"2020-02-29T09:38:26","slug":"peringati-hps-se-dunia-fisip-umj-gelar-the-2nd-international-conference-on-social-work","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/peringati-hps-se-dunia-fisip-umj-gelar-the-2nd-international-conference-on-social-work\/","title":{"rendered":"Peringati HPS se-dunia, FISIP UMJ gelar The 2nd International Conference on Social Work"},"content":{"rendered":"\n<p>BBC, Tangsel &#8211; FISIP UMJ mengadakan seminar The 2nd International Conference on Social Work (ICSW) dengan tema Social Work: A Catalyst for Change and Social Cohesion in Diverse Society . Kegiatan ini dalam rangka memperingati Hari Pekerja Sosial Sedunia ( World Social Work Day), 29 Februari 2020.<\/p>\n\n\n\n<p>Prof. Adi Fahrudin, Guru Besar pertama di bidang pekerjaan sosial di Indonesia menjadi keynote speakers bersama Prof. Dr. Mechthild Wolff dan Prof. Dr. Sigrid Annemarie Bathke, dari University of Applied Sciences Landshut, Jerman, Prof. Dr. Azlinda Azman, dari USM Malaysia, Prof.Dr. Ismail Baba, Visiting Professor, Sophia University, Tokyo, Japan. dan Prof. Jae Sung Choi, dari Yonsei University. Korea Selatan. Sementara itu, Ketua Panitia ICSW 2020, Tria Patrianti menjelaskan bahwa ICSW ke-2 ini sangat menarik minat para peserta dari berbagai perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri, untuk hadir mempresentasikan gagasan dan hasil penelitian mereka karena deretan keynote bereputasi internasional di bidang pekerjaan sosial.<\/p>\n\n\n\n<p>Terkait tema ICSW 2020, Prof. Adi Fahrudin, Ph.D, Guru besar Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP, UMJ menyatakan bahwa pekerjaan sosial merupakan katalisator, yaitu profesi yang dapat merekatkan kembali hubungan yang selama ini terpecah. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHubungan antar manusia yang terlihat pada masyarakat sekarang, menunjukkan gejala yang tidak harmonis. terpecah-pecah. Oleh karena itu, profesi Pekerjaan Sosial harus menjadi pelopor dalam menciptakan perubahan sosial yang positif, progresif, yang tidak menimbulkan destruktif. Inilah inti dari International Conference tahun ini,\u201d katanya. <\/p>\n\n\n\n<p>Prof Dr. Azlinda Azman Universitas Sains Malaysia mengatakan bahwa\u201d Tantangan profesi kerja sosial sebagai agen perubahan dalam masyarakat yang berbeda dengan pendekatan dignifikasi. Ini dimungkinkan karena pekerja sosial yang kompeten harus memiliki nilai-nilai, keterampilan, dan metode profesional dalam bekerja dengan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Filosofi utama dari disiplin kerja sosial adalah menuju meningkatkan fungsi sosial <br>\nmasyarakat memberdayakan masyarakat untuk membuat atau memenuhi perubahan yang diinginkan Mendukung masyarakat dalam mencapai kesejahteraan yang lebih baik,&#8221; jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>ISMAIL BABA, PhD Sophia University Tokyo Jepang mengatakan dalam presentasinya pengawasan pekerjaan sosial disebut sebagai proses hubungan profesional yang terjadi antara pengawas dan bawahan yang menekankan tanggung jawab dan akuntabilitas untuk pengembangan kompetensi pekerjaan sosial. Pengawasan yang efektif sangat penting untuk meningkatkan kualitas intervensi pekerjaan sosial. Pengawasan yang efektif sangat penting untuk meningkatkan kualitas intervensi pekerjaan sosial.<\/p>\n\n\n\n<p>Prof. Dr. Mechthild Wolff dalam pemaparannya yang membahas tentang Penyalahgunaan Kekuasaan dalam Organisasi Pendidikan Profesional &#8211; Strategi Perlindungan Anak dalam Organisasi dan Implementasinya awal setiap perubahan yang dimaksudkan dalam organisasi pendidikan profesional, orang harus mengubah nilai-nilai dan persepsi individu mereka tentang hak-hak anak.<\/p>\n\n\n\n<p>Prof. Sigrid University of Applied Sciences, Landshut, Germany dalam paparannya membahas tentang program pendidikan keluarga dan layanan dukungan keluarga. Berbagai masalah juga dapat terjadi dalam keluarga kelas menengah dan karena peristiwa tak terduga seperti kematian orang tua atau penyakit serius, sering ada garis tipis antara inklusi dan pengecualian sosial.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks ini, refleksi berkelanjutan dari sikap profesional tentang bagaimana kehidupan keluarga adalah dan harus tidak bisa dihindari bagi pekerja sosial di bidang ini. Dalam memberikan pendidikan dan layanan dukungan keluarga dibutuhkan lebih banyak partisipasi<br> untuk pengembangan pendidikan keluarga serta pemberian layanan keluarga.  <\/p>\n\n\n\n<p>Dekan Fisip UMJ Dr. Mamun Murod, menyebutkan bahwa dalam perkembangannya, Muhammadiyah juga masuk pada penyelesaian konflik-konflik di Ki danao, di Thailand, juga mengirimkan misi-misi kemanusiaan. Rohingya, Nepal, di Palestine, dan juga isu-isu kemanusiaan di tingkat nasional. Termasuk memberikan beasiswa pendidikanbantuan sosial kemanusiaan bagi warga negara yang tidak mampu. Kami mendukung sepenuhnya kegiatan ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Harapan nya kegiatan ini berkesinbungan dan selalu harus selaras dengan misi yg diusung oleh pendiri Muhammadiyah. Seperti pelaksanaan ICSW pertama yang berkunjung ke Lembaga Sosial untuk Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), kali ini konperensi ICSW ke-2 akan ditakhiri dengan kunjungan kelembaga Mulya Jaya di daerah Pasar Rebo Jakarta Timur, sebuah Pusat Rehablitasi Sosial bagi mantan wanita tuna susila, korban kekerasan dalam rumah tangga, dan wanita korban trafficking.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BBC, Tangsel &#8211; FISIP UMJ mengadakan seminar The 2nd International Conference on Social Work (ICSW) dengan tema Social Work: A Catalyst for Change and Social Cohesion in Diverse Society . Kegiatan ini dalam rangka memperingati Hari Pekerja Sosial Sedunia ( World Social Work Day), 29 Februari 2020. Prof. Adi Fahrudin, Guru Besar pertama di bidang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":14198,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"tdm_status":"","tdm_grid_status":"","footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":{"0":"post-14197","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-nasional"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14197","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14197"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14197\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14200,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14197\/revisions\/14200"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14198"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14197"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14197"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14197"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}