{"id":18865,"date":"2021-01-04T15:05:30","date_gmt":"2021-01-04T15:05:30","guid":{"rendered":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/?p=18865"},"modified":"2021-01-04T15:05:31","modified_gmt":"2021-01-04T15:05:31","slug":"belasan-warga-binaan-lapas-kelas-iia-cilegon-reaktif-covid-19","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/belasan-warga-binaan-lapas-kelas-iia-cilegon-reaktif-covid-19\/","title":{"rendered":"Belasan Warga Binaan Lapas Kelas IIA Cilegon Reaktif Covid- 19"},"content":{"rendered":"\n<p>BBC,<span style=\"background-color: rgba(25, 30, 35, 0.2); font-size: inherit;\"> Cilegon: Belasan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cilegon, dinyatakan reaktif Covid-19. Hal itu diketahui setelah 30 napi dan 20 petugas Lapas di-rapid test antigen pada Jumat (1\/1\/2021) lalu.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Itu adalah blok khusus, agar lebih mudah terpantau dan mendapatkan atensi khusus dari petugas,&#8221; ucap Ketua Pencegahan dan Penanggulanan Covid-19 pada Lapas Kelas II A Cilegon Zulkarnain, Senin (4\/1\/2021).<\/p>\n\n\n\n<p>Menyikapi hal itu, Zulkarnain berharap belasan napi yang reaktif segera dilakukan swab massal demi memastikan semua warga binaan aman dari penularan Covid-19.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Mengingat hasil rapid test antigen pekan lalu ada yang reaktif, kami berharap adanya tindak lanjut berupa swab massal. Sebab hanya melalui swab, keakuratan Covid-19 bisa didapatkan,&#8221; sambungnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menambahkan, sampai saat ini dirinya belum dapat memastikan media penularan awal virus tersebut. Mengingat pihaknya sudah melarang warga binaan kontak langsung dengan keluarga yang menjenguk.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Sampai saat ini, kami belum tahu awal mulanya virus ini masuk ke Lapas,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara Plt. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon, Dana Sujaksani mengaku telah menyiapkan alat swab untuk warga binaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Tadi pagi kami sudah rapat secara daring dengan pihak Lapas. Intinya terkait 11 warga binaan terdeteksi reaktif, akan kami tindaklanjuti,&#8221; katanya saat dihubungi melalui telepon genggam.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski begitu, pihaknya belum bisa melakukan swab terhadap belasan napi yang reaktif Covid-19. Sebab Dinkes masih menunggu Nomor Induk Kependudukan (NIK) napi yang dinyatakan reaktif.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kami (Dinkes Cilegon) harus menunggu NIK napi-napi itu. Sebab untuk pengiriman sampel swab, wajib mencantumkan NIK,&#8221; ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Adapun perihal permintaan Lapas untuk melakukan rapid test antigen secara massal, pihaknya mengaku belum siap lantaran harus melihat ketersediaan alat rapid test antigen yang ada di Dinkes.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Pihak Lapas juga sedang menunggu pengadaan rapid antigen. Jika sudah tersedia, kami akan berkoordinasi kembali,&#8221; ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka dari itu, ia mengimbau pengelola Lapas agar penerapan protokol kesehatan di area Lapas ditingkatkan. Dia menyarankan 11 warga binaan yang reaktif Covid-19 dipisahkan atau dilakukan isolasi mandiri untuk mencegah penyebaran Covid-19.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kami sudah mengarahkan agar 11 orang ini diisolasi,&#8221; tutupnya. (1-2).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BBC, Cilegon: Belasan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cilegon, dinyatakan reaktif Covid-19. Hal itu diketahui setelah 30 napi dan 20 petugas Lapas di-rapid test antigen pada Jumat (1\/1\/2021) lalu. &#8220;Itu adalah blok khusus, agar lebih mudah terpantau dan mendapatkan atensi khusus dari petugas,&#8221; ucap Ketua Pencegahan dan Penanggulanan Covid-19 pada Lapas Kelas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18866,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"tdm_status":"","tdm_grid_status":"","footnotes":""},"categories":[11,28],"tags":[],"class_list":{"0":"post-18865","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-cilegon","8":"category-sosbud"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18865","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18865"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18865\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18867,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18865\/revisions\/18867"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18866"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18865"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18865"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18865"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}