{"id":35333,"date":"2026-04-28T08:38:13","date_gmt":"2026-04-28T08:38:13","guid":{"rendered":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/?p=35333"},"modified":"2026-04-28T11:09:00","modified_gmt":"2026-04-28T11:09:00","slug":"35333-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/35333-2\/","title":{"rendered":"Encop Sopia Paparkan Disertasi Keterwakilan Perempuan di Kancah Politik"},"content":{"rendered":"<header>\n<nav class=\"custom-navbar navbar navbar-expand-lg sticky-top flex-column no-logo is-sticky\">\n<div class=\"container position-relative\">BBC, Depok &#8211;\u00a0 Anggota DPRD Provinsi Banten, yang juga politisi Gerindra, Encop Sopia memaparkan isu keterwakilan perempuan dalam kancah politik lokal dalam sidang terbuka promosi doktor di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Selasa 28 April 2028.<\/div>\n<div><\/div>\n<div><\/div>\n<div class=\"container position-relative\">Encop Sopia, berhasil mempertahankan disertasinya yang membedah dinamika lahirnya kebijakan berperspektif gender di Kabupaten Pandeglang Rovinsi Banten, dan Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat.<\/div>\n<div><\/div>\n<div><\/div>\n<div class=\"container position-relative\">Penelitian bertajuk &#8220;Mendorong Representasi Substantif Perempuan di Tingkat Lokal&#8221; ini menelisik proses legislasi Peraturan Daerah Pengarusutamaan Gender (Perda PUG) pada periode 2019\u20132024.<\/div>\n<div><\/div>\n<div><\/div>\n<div class=\"container position-relative\">Encop menekankan keberadaan perempuan di parlemen daerah tidak boleh hanya sekadar memenuhi kuota angka atau representasi deskriptif.<\/div>\n<div><\/div>\n<div class=\"container position-relative\">&#8220;Melainkan harus mampu melakukan transformasi kebijakan yang menjawab kebutuhan nyata kaum perempuan,&#8221; Encop di hadapan dewan penguji.<\/div>\n<div><\/div>\n<\/nav>\n<\/header>\n<div class=\"container\">\n<div class=\"row row-m\">\n<div class=\"col-sm-8 col-md-6 col-xl-8 col-p main-content\">\n<div class=\"theiaStickySidebar\">\n<div class=\"post_details_inner\">\n<div id=\"news-content\" class=\"post_details_block details_block3\">\n<div id=\"body-berita\">\n<p>&#8220;Representasi perempuan tidak berhenti pada angka di parlemen. Ia harus ditransformasikan menjadi kebijakan nyata yang menjawab kebutuhan perempuan di masyarakat,&#8221; tegas Encop.<\/p>\n<p>Dalam temuannya, Encop mengungkapkan adanya perbedaan pola gerak politik di dua wilayah tersebut. Di Kabupaten Pandeglang, misalnya inisiatif lahirnya Perda PUG lebih banyak dimotori oleh anggota DPRD dengan dukungan masif dari berbagai organisasi perempuan.<\/p>\n<p>&#8220;Sebaliknya, di Kabupaten Karawang, peran pemerintah daerah atau eksekutif nampak lebih dominan dalam menginisiasi kebijakan dengan sokongan jaringan masyarakat sipil,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Dalam disertasi ini Encop menegaskan peningkatan jumlah keterwakilan perempuan di lembaga legislatif bukan jaminan otomatis lahirnya kebijakan yang responsif gender.<\/p>\n<p>Menurutnya diperlukan kepemimpinan politik yang progresif serta koalisi lintas sektor yang kuat agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar inklusif dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.<\/p>\n<p>&#8220;Sidang promosi doktor ini diharapkannya mampu memperkaya literasi mengenai politik representasi di era desentralisasi,&#8221; tandasnya.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BBC, Depok &#8211;\u00a0 Anggota DPRD Provinsi Banten, yang juga politisi Gerindra, Encop Sopia memaparkan isu keterwakilan perempuan dalam kancah politik lokal dalam sidang terbuka promosi doktor di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Selasa 28 April 2028. Encop Sopia, berhasil mempertahankan disertasinya yang membedah dinamika lahirnya kebijakan berperspektif gender di Kabupaten [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":35340,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"tdm_status":"","tdm_grid_status":"","footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":{"0":"post-35333","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-peristiwa"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35333","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=35333"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35333\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":35352,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35333\/revisions\/35352"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35340"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=35333"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=35333"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=35333"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}