{"id":36518,"date":"2026-06-08T23:50:00","date_gmt":"2026-06-08T23:50:00","guid":{"rendered":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/?p=36518"},"modified":"2026-06-09T00:27:38","modified_gmt":"2026-06-09T00:27:38","slug":"banten-tawarkan-pengalaman-wisata-alam-kelas-dunia-di-ujung-kulon","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/banten-tawarkan-pengalaman-wisata-alam-kelas-dunia-di-ujung-kulon\/","title":{"rendered":"Banten Tawarkan Pengalaman Wisata Alam Kelas Dunia di Ujung Kulon"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">BBC, Pandeglang &#8211; Provinsi Banten menawarkan pengalaman wisata alam kelas dunia melalui keindahan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), kawasan konservasi yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Beragam destinasi eksotis mulai dari Pulau Peucang, Pulau Handeuleum, Pulau Panaitan, hingga Karang Copong menjadi daya tarik yang memadukan keindahan alam, keanekaragaman hayati, dan petualangan wisata yang berkesan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk memperkenalkan potensi tersebut kepada masyarakat luas, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten Eli Susiyanti bersama mitra pariwisata melakukan eksplorasi sejumlah destinasi unggulan di kawasan TNUK. Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat promosi wisata di Provinsi Banten sebagai destinasi ekowisata unggulan nasional dan internasional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Eli mengatakan, kunjungan tersebut bertujuan untuk memperkenalkan lebih luas kekayaan wisata alam kepada masyarakat Indonesia maupun wisatawan mancanegara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cBanten memiliki potensi wisata alam yang luar biasa dan tidak pernah kehabisan destinasi menarik untuk dikunjungi,\u201d kata Eli Susiyanti, di Pulau Peucang, Kabupaten Pandeglang, Minggu 7 Juni 2026.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Eli, perjalanan eksplorasi dimulai dari Pulau Handeuleum yang menawarkan pengalaman wisata alam berupa tracking di kawasan mangrove serta pengamatan satwa liar yang hidup di habitat alaminya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPulau Handeuleum kami melihat kawasan mangrove yang indah, menikmati wisata tracking, serta menyaksikan berbagai satwa liar yang menjadi kekayaan biodiversitas Ujung Kulon,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Pulau Panaitan. Rombongan menginap selama satu malam untuk menikmati berbagai aktivitas wisata yang menjadi daya tarik pulau tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKemudian berlanjut ke Pulau Panaitan. di sana untuk mengeksplorasi keindahannya. Kami juga sempat melakukan surfing serta menikmati panorama sunrise dan sunset yang sangat memukau,\u201d ungkap Eli.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Eksplorasi selanjutnya dilakukan ke sejumlah destinasi ikonik lainnya, termasuk Pulau Peucang yang terkenal dengan pantai berpasir putih dan satwa liarnya, Karang Copong dengan pemandangan tebing karang yang eksotis, hingga Pulau Bocaan yang menawarkan keindahan alam yang masih sangat asri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Eli berharap semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke kawasan Taman Nasional Ujung Kulon dan menikmati keindahan alamnya. Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan selama berwisata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTaman Nasional Ujung Kulon seluruh alamnya sangat indah dan layak dikunjungi. Datanglah ke Banten, namun dengan catatan bahwa alam Banten yang indah ini harus kita jaga bersama dan jangan sampai dicemari,\u201d tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sementara itu, salah seorang wisatawan asal Bekasi, Jawa Barat, Dinda yang datang bersama kerabatnya Ade mengaku terkesan dengan keindahan Pulau Peucang yang untuk pertama kalinya ia kunjungi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cIni pertama kali saya ke Pulau Peucang. Seru dan keren banget. Saat sampai di sini ternyata pemandangannya benar-benar seindah yang saya lihat di media sosial. Banyak satwa liar yang bisa dilihat langsung di habitatnya,\u201d kata Dinda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia mengaku pengalaman berwisata di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon memberikan kesan yang mendalam dan membuatnya ingin kembali berkunjung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cLokasinya ternyata sebagus yang ada di media sosial, bahkan lebih indah. Sepertinya kami akan kembali lagi ke sini,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Taman Nasional Ujung Kulon merupakan kawasan konservasi yang berada di ujung barat Pulau Jawa dan menjadi habitat terakhir badak cula satu di dunia. Kawasan ini juga dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, pantai-pantai eksotis, hutan tropis yang masih alami, serta gugusan pulau yang menjadi daya tarik wisata unggulan Provinsi Banten.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BBC, Pandeglang &#8211; Provinsi Banten menawarkan pengalaman wisata alam kelas dunia melalui keindahan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), kawasan konservasi yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Beragam destinasi eksotis mulai dari Pulau Peucang, Pulau Handeuleum, Pulau Panaitan, hingga Karang Copong menjadi daya tarik yang memadukan keindahan alam, keanekaragaman hayati, dan petualangan wisata yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":36519,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-36518","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-peristiwa"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36518","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36518"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36518\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":36520,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36518\/revisions\/36520"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36519"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36518"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36518"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bukabanten.co.id\/news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36518"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}