BBC, Serang – Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlidungan Anak (Kemen PPA) Republik Indonesia terus mendorong pemberian Air Susu Ibu (ASI) ekslusif terhadap balita di Indonesia. Karena diakui cakupan ASI ekslusif warga Indonesisa secara umum masih rendah yakni dikisaran 40an persen.

“Padahal capaian Nasional berdasarkan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2012 tercatat sebesar 42 persen,” ungkap Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Kesehatan dan Kesejahteraan Kementrian PPA, Hendra Jamal, usai menghadiri  sosialisasi ASI ekslusif, Gizi Seimbang dan gula garam dan lemak bagi keluarga di provinsi Banten, di Hotel Bidakara Kota Serang, Kamis 19/10/2017.

Hendra mengungkapkan, persoalan rendahnya memberikan ASI ekslusif terdapat terhadap balita, lanjut Hendra banyak disebabkan beberapa faktor. Salah satunya yakni pemahaman ibu-ibu akan kualitas asi yang kurang, hingga kesibukan kerja menjadi penghalang ibu-ibu untuk memberikan asi ekslusif.

“Oleh sebab itu kami terus melakukan upaya advokasi terhadap wanita di Indoinesia untuk memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan hingga 2 tahun atau lebih. Karena dengan begitu kesehatan dan kesejateraan balita akan tetap terjaga,” jelasnya.

Meski begitu, tambah Hendra pihaknya patut berbangga dengan tingkat pemberian ASI ekslusif warga Banten. Dimana berdasarkan laporan yang diterima, persentase cakupan ASI ekslusif provinsi Banten tahun 2016 misalnya mencapai 55,75 persen.

“Ini artinya angka tersebut cenderung lebih tinggi dari capaian  Nasional,” tegas Hendra.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlidungan Anak Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Provinsi Banten, Sitti Maani Nina mengatakan, pihaknya patut berbangga dangan capaian cakupan asi eksklusif warga Banten yang sudah diatas rata-rata Nasional. Meski begitu capaian tersebut tidak membuat pemerintah daerah merasa puas.

“Karena upaya melalui sosialisasi, bintek kepada para calon pengantin, lembaga masyarakat, organisasi, tokoh agama untuk memberikan ASI eksklusif terus diberikan,” ujar Nina.

Apalagi, Nina mengatakan tidak dipungkiri permasalahan lain yang ada di provinsi Banten yaitu kasus gizi buruk yang masih menjadi masalah dan perlu mendapatkan perhatian bersama dalam upaya penanggulangannya. Dimana persoalan gizi buruk banyak penyebabnya diantara pendidikan orang tua rendah, pengetahuan tentang gizi kurang, faktor ekonomi dan sebagainya.

“Akibatnya berdasarkan data dinas kesehatan provinsi Banten menempatkan Kota Serang sebagai daerah tertinggi penderita gizi buruknya, yakni mencapai 39,3 persen,” tandas Nina. (1-1)