Google search engine
Beranda Banten BPKH dan BRIN Luncurkan Program Dai Sejuta Mimbar untuk Anak Muda

BPKH dan BRIN Luncurkan Program Dai Sejuta Mimbar untuk Anak Muda

0
7

BBC, Cilegon – Persiapan ibadah haji dan perkembangan dakwah di media sosial menjadi dua hal yang disorot Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam mendorong peran generasi muda di era digital.Upaya tersebut diwujudkan melalui peluncuran Program Dai Sejuta Mimbar di Auditorium Gedung B.J. Habibie, BRIN, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Program ini dikembangkan bersama Yayasan Harika untuk Kemanusiaan, dengan menghubungkan edukasi perencanaan haji dan pengembangan dakwah melalui platform digital. Bagi BPKH, kesadaran menunaikan ibadah haji perlu dibangun jauh sebelum seseorang berangkat ke Tanah Suci.

Persiapan tersebut mencakup pemahaman agama, kesiapan spiritual, hingga kemampuan mengatur keuangan dalam jangka panjang.Anggota Badan Pelaksana BPKH, Harry Alexander, mengatakan generasi muda perlu memahami bahwa perencanaan haji membutuhkan komitmen yang dibangun secara bertahap.

“Persiapan ibadah haji perlu dimulai sejak usia muda. Haji bukan hanya tentang keberangkatan ke Tanah Suci, tetapi juga tentang membangun komitmen jangka panjang melalui perencanaan keuangan yang disiplin,” ujar Harry Jumat 16 Oktober 2026.

Pendekatan itu diterapkan melalui Program Haji Muda yang mendorong anak muda membangun kebiasaan menabung, memahami pengelolaan keuangan, dan mencari informasi haji dari sumber yang tepat.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga membuka ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan pesan keagamaan dengan cara yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat. Media sosial, video pendek, dan podcast menjadi sarana yang dapat dimanfaatkan untuk menjangkau kelompok audiens yang lebih luas.

“Namun, kemudahan memproduksi dan menyebarkan konten menghadirkan tantangan tersendiri. Pesan keagamaan yang disampaikan secara digital perlu memiliki dasar pengetahuan yang kuat agar tidak berhenti pada popularitas semata,” katanya.

Sementara, Kepala BRIN, Arif Satria, menekankan pentingnya menjaga kualitas materi dakwah di tengah perkembangan teknologi komunikasi.“Dakwah di era digital tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas dan jangkauan yang luas, tetapi juga harus didukung oleh substansi pengetahuan yang kuat dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” kata Arif.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi seharusnya menghasilkan dampak yang dapat dirasakan masyarakat, termasuk meningkatnya pemahaman terhadap pesan yang disampaikan.“Keberhasilan dakwah digital perlu dilihat dari manfaat dan dampak nyata yang dihasilkan,” ucapnya.

Pandangan tersebut membuka ruang bagi riset untuk mengambil peran dalam pengembangan dakwah digital. Melalui kolaborasi dengan BRIN, pendekatan berbasis penelitian dapat dimanfaatkan untuk mengenali kebutuhan audiens, mengevaluasi efektivitas komunikasi, dan melihat perubahan pemahaman masyarakat setelah menerima suatu pesan.

“Dengan demikian, penilaian terhadap keberhasilan sebuah konten tidak hanya bertumpu pada jumlah penonton, interaksi, atau frekuensi unggahan. Kualitas informasi dan manfaatnya bagi masyarakat juga menjadi aspek penting,” katanya.

Peluncuran program ini turut dihadiri Deputi Bidang Penghimpunan BPKH Juni Supriyanto, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Banu Muhammad, peneliti BRIN Rizky Prayogo Ramadhan, serta Fatchul Wachid dari Gerakan Dai Sejuta Mimbar.

Melalui pengembangan Program Haji Muda dan Dai Sejuta Mimbar, BPKH dan BRIN mendorong generasi muda agar tidak hanya memiliki perencanaan yang lebih baik untuk menunaikan ibadah haji, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan pesan keislaman yang bertanggung jawab dan memberi manfaat. (1-2).

Google search engine