Google search engine
Beranda Banten Dalam Tiga Tahun Ada Tiga Korban Meninggal Akibat Difteri di Kota...

Dalam Tiga Tahun Ada Tiga Korban Meninggal Akibat Difteri di Kota Serang

0
960

BBC, Serang – Warga Kota Serang yang terkena Virus Difteri dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Tercatat dari tahun 2014 sampai dengan November 2017 sudah ada 23 orang yang terkena Virus Difteri. Kepala Dinas Kesehatan Kota Serang Toyalis saat ditemui di kantornya menjelaskan, munculnya penyakit yang menyerang saluran tenggorokan ini disebabkan kurangnya kesadaran orang tua dalam melakukan imunisasi terhadap anaknya, yang mengakibatkan anaknya terkena Virus Difteri.

“Tercatat pada tahun 2014 saja ada 3 orang yang terkena Virus Difteri yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia, di tahun 2015 tercatat 5 orang dan satu orang meninggal, di tahun 2016 tercatat 7 orang yang terkena Virus Diftero dan yang terahir per bulan November 2017 tercatat 8 orang yang terkena Virus tersebut dan dari delapan orang tersebut satu orang meninggal dunia,” jelas Toyalis, kepada bukabantennews.com, Jum’at, 8/12/2017.

“Dari 8 orang yang terkena Virus Divteri itu satu orang meninggal dunia, yang berusia 42 tahun,”imbuhnya.

Lanjut Toyalis, bahwa yang jadi korban Virus tersebut berasal dari kecamatan Serang, Taktakan, Cipocok, Curug dan kecamatan Kasemen. Dimana berdasarkan data yang ada di tahun 2017 ini kecamatan Curug yang termasuk kesadaran orang tuanya masih kurang akan pentingnya Imunisasi.

“Kecamatan Curug yang termasuk masih susah untuk dilakukan imunisasi,” ujar Toyalis.

Ditemui ditempat yang sama kepala Bidang Pencegahan dan pengendalian Penyakit (P2P) Teja Ratri menjelaskan, bahwa terjadinya kasus Virus Difteri tersebut disebabkan oleh kurangnya cakupan Imunisasi yang tidak sesuai dengan yang diharpakan (target) Dinas Kesehatan Kota Serang. Sedanglan untuk semua jenis antigen atau imunisasi dasar targetnya adalah 95%

“Kalau kota Serang di liat dari rata-rata di tahun 2016 saja untuk Kota Serang hanya mampu mencapai 80%,” ungkap Teja.

“Karena Virus Difteri ini merupakan Virus yang menular, maka perlu dilakukan Imunisasi mendasar harus dilakukan pencegahan,” jelasnya.

Menurutnya, pencegahan itu selain dengan cara melakukan Imunisasi mendasar perlu dilakukan penambahan Boster. Karena Imunisasi mendasar itu seperti Ventavalen dan dilakukan Imunisasi yang lainya hingga usia 9 bulan, dan kemudian ditambah dengan Bosternya pada usia 18 bulan. Sedangkan untuk tetanus dan Difteri itu ada bosternya lagi yaitu imunisasi sekolah yang dilakukan pada kelas satu, dua, dan tiga.

“Boster itu dilakukan untuk pemberian dosis imunisasi secara ulang yang bertujuan untuk memperkuat memori, seperti yang terjadi pada kasus Difteri karena dosis kekebalan tubuhnya tidak untuk seumur hidup maka perlu dilakukan Boster,” ucapnya

“Bila seseorang sudah melakuakan imunisasi sebanyak tiga kali, maka orang tersebut memiliki kekebalan tubuh mencapai 97% dan kemudian mengalami penurunan hingga 60% sampai dengan 70% maka dari itu perlunya dilakukan Boster,” pungkas Teja. (1-2)

Google search engine