BBC, Lebak – Meningkatan produktifitas ekonomi perempuan telah menjadi salah satu prioritas Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam rangka meningkatkan kualitas hidup perempuan. Kebijakan tersebut sangat diperlukan implementasi bagi pemberdayaan perempuan agar upaya yang telah dilakukan dapat menjadi lebih efektif dan efisien serta peran serta kelompok usaha ekonomi perempuan dalam pembangunan menjadi lebih nyata. Saat ini telah banyak program-program di provinsi Banten yang ditujukan untuk memberdayakan masyarakat, termasuk didalamnya kelompok usaha ekonomi perempuan. Dalam kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019, dijelaskan bahwa kualitas hidup dan peran perempuan relatif rendah, kesetaraan gender masih harus ditingkatkan.

“Kualitas hidup perempuan yang masih rendah antara lain disebabkan rendahnya tingkat pendidikan, kesiapan perempuan dalam mengantisipasi dampak perubahan iklim, gejolak ekonomi, krisis pangan dan energi, bencana alam dan konflik sosial,” ungkap Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Pelrindungan Anak Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Provinsi Banten, Sitti Maani Nina dalam sambutannya pada acara penguatan pengembangan industri perumahan perempuan di Kabupaten Lebak, Senin 13/11/2017. 

Nina menjelaskan, keberhasilan pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat sangat tergantung dari peran serta seluruh penduduk laki-laki maupun perempuan sebagai pelaku dan sekaligus pemanfaat dari hasil pembangunan. “Sebagai pelaku pembangunan, perempuan dituntut untuk berkualitas agar dapat menjadi mitra kerja aktif laki-laki dalam mengatasi berbagai masalah sosial, ekonomi maupun politik menjamin pemerataan dan keberhasilan pembangunan itu sendiri. Kesetaraan gender dalam bidang ekonomi juga bertujuan dalam peningkatan kegiatan ekonomi produktif perempuan yang sebagian besar merupakan usaha mikro yamg mampu menjamin resiliensi bangsa dari dampak gejolak ekonomi global,” jelasnya.

Nina mengatakan persoalan pemberdayaan perempuan merupakan permasalahan yang telah ada sebelumnya. Saat ini upaya pemberdayaan perempuan terus digalakan, semuanya bermuara pada kata kunci pendidikan dan ekonomi. Hal itu setidaknya memberikan gambaran bahwa perempuan adalah pendidik utama dan pertama, sekaligus manajer sejati dalam mengelola ekonomi keluarga.

Baca juga :  KPU Banten Siap Gelar Debat Cagub dan Cawagub, Ini Ketentuan dan Larangannya

“Dengan melihat potensi perempuan yang sesungguhnya tidak lebih buruk dibanding laki-laki, kaum hawa dapat menjadi kontributor bagi perekonomian keluarga dengan melalui penguatan ekonomi rumah tangga. Proses pemberdayaan tidak cukup hanya berupaya penyadaran akan kesetaraan gender atau peningkatan pengetahuan dan keterampilan semata, tetapi harus secara nyata dituangkan dalam wujud pelaksanaan aktivitas ekonomi yang bersifat produktif,” katanya.  

Kegiatan ekonomi ini, Nina mengatakan dapat merupakan pengembangan lapangan usaha yang memang telah dilaksanakan kelompok sasaran sebelumnya maupun pengembangan lapangan usaha baru. Kegiatan ekonomi yang dikembangkan hendaknya didukung oleh potensi ketersediaan bahan baku dan bahan pendukung di wilayah tersebut, merupakan produk unggulan di daerahnya, serta dibutuhkan dan memiliki pasar yang nyata agar berkesinambungan. “Berdasarkan pertimbangan diatas kami tetap konsisten dalam memajukan ekonomi perempuan khususnya dalam pengawalan dan pengembangan industri rumahan, karena biasanya perempuan lebih ulet, tekun dan sabar,” tegas Nina

“Sehingga perempuan kita secara ekonomi mandiri yang selanjutnya berdampak pada kesejahteraan keluarga dan menurunkan kesenjangan ekonomi terhadap perepuan,” tandas Nina. (1-1)