BBC, Cilegon – Pendidikan warga Kota Cilegon ternyata masih banyak yang tidak tamat Sekolah Dasar (SD). Padahal Kota Cilegon sebagai Kota industri seharusnya Sumber Daya Manusia (SDM) sudah memiliki daya saing dengan Kota dan Kabupaten yang lainya di Provinsi Banten lantaran Kota Cilegon merupakan Kota Industri, kata Ketua Koalisi Kependudukan Provinsi Banten, Enggar Utari saat menjadi narasumber di acara workshop indikator strategis yang digelar Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cilegon di Hotel Greenotel, Kota Cilegon, Jumat (9/12/2022).
Lebih lanjut Enggar mengatakan, banyak faktor yang membuat masih banyaknya warga di Cilegon yang tidak tamat SD. Mulai dari banyaknya peluang untuk mendapatkan pekerjaan dan sudut pandang warga yang menganggap ijazah itu tidak penting.
“Faktornya banyak, seperti masyarakat itu sendiri karena memang daerah ini kan Kota industri. Mereka berasumsi bahwa mereka bisa bekerja walaupun cuma lulus SD. Hal itu berkaitan juga dengan kualitas penduduk, maka SDMnya harus diberikan pemahaman bahwa dengan banyaknya peluang seharusnya mereka meningkatkan potensi pendidikannya agar bisa masuk pada sektor-sektor yang signifikan untuk mendongkrak income,” ujar Enggak kepada wartawan usai acara tersebut.
Selain pendidikan Enggar mengungkapkan, sampai saat ini indikator pertanian juga masih rendah. Padahal kata Enggar di Cilegon tidak seharusnya semua soal industri melainkan masih banyak lahan pertanian yang bisa dikembangkan.
“Kota Cilegon yang muncul itu tidak melulu itu industri, kita juga harus mengembangkan pertanian. Tadi kan buktinya juga ada, karena memang disini juga ada beberapa daerah pertanian yang mungkin potensial,” katanya.
Sementara, Statistisi Ahli Muda pada BPS Kota Cilegon Beny Trianjaya menyampaikan, tahun ini BPS Kota Cilegon mencatat ada beberapa indikator
yang mengalami kenaikan maupun penurunan. Adapun indikator yang mengalami kenaikan diantaranya yakni, indikator IPM, inflasi dan pertumbuhan Ekonomi. Sementara indikator yang mengalami penurunan yakni, kemiskinan, pengangguran dan Gini Ratio.
“Tahun ini yang kita lihat trennya, angka kemiskinan itu turun, angka penganggurannya turun, kalau bisa dibilang ada inpec dari tahun 2021. Lalu IPM kita meningkat itu pertanda yang bagus, kemudian rasionya juga hampir nol, artinya kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin semakin kecil, inflasi secara keseluruhan belum dihitung, tapi kalau rata-rata perbulan itu naik, karena ngitungnya per bulan ada kadang deflasi, ada kadang inflasi, terkandung keadaan harga di masyarakat pada bulan itu,” ungkap Beny.
Beny berharap, melalui kegiatan workshop tersebut semua pihak di Kota Cilegon mulai dari Lurah, Camat hingga kepala organisasi perangkat daerah (OPD) memahami semua indikator di Cilegon. Dengan begitu maka semua pihak dapat bersama-sama memperbaiki terhadap indikator yang belum baik.
“Kami berharap dengan adanya Workshop ini Lurah, Camat, OPD dan pemerintahan Kota Cilegon, lebih paham ternyata indikatornya banyak. Sehingga bisa bersama-bersama memperbaikinya,” katanya. (1-2).





































