
BBC, Serang – Kebutuhan hewan kurban di Provinsi Banten tahun 2026 masih mengandalkan pasokan hewan dari luar Banten. Saat ini ketersediaan hewan kurban di Banten hanya sekitar 11.969 ekor. Padahal hewan kurban untuk perayaan Iduladha Tahun 2026 sebanyak diprediksi mencapai 63.171 ekor.
“Ini artinya Banten masih defisit hewan kurban sebanyak 51.202 ekor, karena hewan kurban yang tersedia dari peternak lokal Banten sebanyak 11.969 atau sekitar 19 persen dari total kebutuhan. Sisanya sebagian besar kebutuhan masih dipenuhi dari luar daerah,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, M. Nasir disela kegiatan bimbingan teknis Iduladha kepada juru sembelih se-Banten, Rabu 6 Mei 2026.
Nasir menyebut, sejauh ini kebutuhan hewan kurban sebagian besar dipasok dari Pulau Jawa dan sisanya didatangkan dari Sumatera seperti Lampung. Untuk kebutuhan Iduladha pihaknya juga mendatangkan hewan kurban dari NTB.
“Kalau untuk persentase itu, Pulau Jawa sekitar 60 persen dan Sumatera 20 persenan. Sisanya dari daerah lain seperti NTB,” kata Nasir.
Berdasarkan data, Nasir menyebut kebutuhan hewan sapi untuk kurban mencapai 14.409 kebutuhan dengan ketersediaan 1.946 ekor. Untuk kerbau 516 kebutuhan dengan ketersediaan 652 ekor.
“Sedangkan untuk kambing kebutuhannya mencapai 26.022 dan ketersediaan 6.122 ekor dan untuk domba kebutuhannya mencapai 22.224 dengan ketersediaan 3.249 ekor hewan. Sementara berdasarkan laporan untuk hewan kurban yang disembelih pada tahun 2025 lalu mencapai 61.690 ekor,” tegasnya.
Dari penghitungan, Nasir menambahkan estimasi perputaran uang dari penjualan hewan kurban di Provinsi Banten Rp 414,2 Miliar. Dengan rincian sapi potong sebesar Rp 259,3 M dengan asumsi Rp18 juta/ekor, kerbau sebesar Rp10,3 M dengan asumsi Rp20 juta/ekor.
“Kemudian untuk perputaran udang dari penjualan hewan kurban kambing sebesar Rp78 M dengan asumsi Rp3 juta/ekor dan domba sebanyak Rp 6,6 M dengan asumsi Rp 3 juta/ekor,” tuturnya.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner pada Dinas Pertanian Provinsi Banten, Ari Mardiana menyebut pihaknya terus menginstifkan pengawasan peredaran hewan kurban yang masuk ke Banten. Salah satu yang dilakukan yakni dengan menerjunkan ratusan petugas dengan dibantu dari Kabupaten/ Kota.
“Mereka mulai melakukan pemeriksaan kesehatan hewan kurban yang ada di lapak-lapak penjualan hewan kurban di Banten,” ucap Ari.
Saat ini, tambah Ari pihaknya mewaspadai tiga penyakit berbahaya yang kerap kali melanda hewan kurban. Ketiganya yakni Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD) dan Antraks & Brucellosi.
“Untuk Penyakit Mulut dan Kuku sejauh ini sudah terkendali. Terbukti pada tahun 2025 lalu tidak ditemukan kasus PMK di Banten atau nol kasus. Jenis penyakit tidak menular ke manusia dan dagingnya tetap aman jika ditangani dengan benar,” ujarnya.
Sedangkan, kata Ari penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) atau biasa disebut penyakit kulit berbenjol pada sapi yang mempengaruhi kondisi fisik hewan. Lalu penyakit selanjutnya yang perlu diwaspadai pada hewan kurban adalah Antraks & Brucellosis.
“Penyakit zoonotik ini memerlukan pengawasan ketat lalu lintas ternak antar daerah. Makanya kita bekerja sama dengan Badan Karantina untuk mengawasi setiap hewan kurban yang masuk ke Banten,” tutup Ari.



































