BBC, Serang – Badan Penanggulangan Bencana Daera (BPBD) Kota Serang terus mengembangkan berbagai strategi untuk menghadapi cuaca ekstrem yang kini semakin sulit diprediksi. Selain teknologi dan informasi dari BMKG, BPBD juga menghidupkan kembali peran kearifan lokal di tengah masyarakat.
“Selain informasi cepat dari BMKG, kami juga mengandalkan kearifkan lokal masayrakat Kota Serang dalam penanganan bencana. Dengan begitu diharapkan mampu menanggulangi setiap bencana yang muncul di lokasi tersebut,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kota Serang, Diat Hermawan, Kamis (24/7/2025).
Diat menyampaikan salah satu kearifan lokal yang masih ada di Kota Serang yakni budaya menabuh kentongan. Atau warga Kota Serang biasanya menyebutnya dengan kokol.
“Kalau ada tanda bahaya bencana misalnya warga Kota Serang itu membunyikan kentongan. Ini saya kira kearifan lokal yang perlu kembali dilestarikan oleh masyarkat di Kota Serang,” ujarnya.
Melalui ini, Diat berharap masyarakat dapat lebih peka terhadap tanda-tanda alam dan menggunakan cara-cara tradisional seperti kentongan untuk memberi tanda bahaya, terutama di wilayah-wilayah rawan bencana.
“Alat tradisional ini kan lebih dikenal masyarakat. Sehingga harapannya mereka akan lebih sigap ketika suara kentongan dibunyikan sebagai alarm bahaya,” tegas Diat.
Selain itu, Diat menyebut BPBD Kota Serang telah memiliki sejumlah kanal informasi resmi untuk menyebarluaskan peringatan dini. Masyarakat dapat mengakses informasi melalui website, media sosial BPBD, hingga layanan darurat 112 yang terintegrasi dengan berbagai OPD di Kota Serang.
“Kita juga punya warning system di kantor yang terkoneksi dengan BMKG. Selain teknologi, kita juga mengedepankan kearifan lokal seperti kentongan supaya masyarakat cepat tanggap,” sebut Diat.
Diat menyampaikan melalui langkah ini dianggap penting untuk mempercepat penyebaran informasi, mengingat kondisi cuaca bisa berubah secara drastis dalam waktu singkat. Sistem woro-woro keliling pun rutin dilakukan oleh petugas BPBD untuk memberi edukasi langsung ke masyarakat.
“Sistem woro-woro itu rutin dilakukan dengan keliling ke masayrakat untuk memberikan edukasi langsung ke warga,” ungkapnya.
Karenanya BPBD mengimbau masyarakat agar tidak lengah dan selalu siap menghadapi cuaca ekstrem. Selain itu warga juga tetap terus menjaga kebersihan lingkungan sebagai salah satu bentuk mitigasi bencana.
“Menjaga lingkungan itu kan bagian penting agar bencana dapat dihindari. Salah satunya yakni dengan menjaga kebersihan selokan atau sungai di sekitar rumah warga,” tandas Diat. (Adv).





































