BBC, Serang – Dinas Pariwisata Provinsi Banten mendukung Seni Tari khas Banten menjadi daya tarik wisata. Salah satu bentuk dukungan dari Dispar Banten dengan melibatkan pelaku seni tari setiap kegiatan pariwisata seperti tarian selamat datang untuk tamu atau wisatawan yang hadir.

“Kalau setiap ada tamu-tamu ke Provinsi Banten ataupun wisatawan yang datang ke Provinsi Banten dan daya tertarik pada seni budaya, pasti kita disambut dengan tarian-tarian Provinsi Banten,” kata Plt. Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif, Dispar Banten, Rohaendi, di Serang, Rabu.

Rohaendi menyatakan, Dinas Pariwisata memberikan kontribusi pada seni tari berupa pelatihan dan sertifikasi untuk seniman tari di Banten. Selain itu seni tari masih belum menjadi agenda rutin dari penampilan pariwisata khususnya di hotel-hotel yang ada di Banten.

“Kontribusi kita terhadap para seniman tari itu kita sudah melakukan pelatihan dan sertifikasi, dan tentu saja beberapa event kita juga melibatkan mereka dan kita sudah bersinergi beberapa tahun,” kata Rohendi usai menghadiri launching Gerak Dasar Tari Daerah Banten di Museum Negri Banten di Kesultanan Surosoan.

Rohaendi mengatakan pihaknya terus berupaya untuk menjadikan seni tari Banten nanti menjadi daya tarik pariwisata bagi wisatawan. Karena eksistensi seni tari Banten sudah mulai dikenal berbeda dengan Jawa Barat.

Meskipun diakui Rohaendi seni tari Banten belum seperti Jawa Barat yang sudah memiliki rumpun-rumpun tari. Hal itu menjadi PR bersama Dinas Pariwisata bersama Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI) Banten. Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI) Banten mengelar Peluncuran Gerak Dasar Tari Banten di Museum Negri Banten di Kawasan Kesultanan Banten, Rabu (23/10/2024).

Ketua Asosiasi Seniman Tari (Aseti) Provinsi Banten Yogi Hadiansyah menyatakan dasar utama munculnya Sinuku Tunggal berawal dari banyaknya pertanyaan terkait kekurangan referensi tentang wilayah tarian ini. Tarian Banten merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional yang kaya akan nilai sejarah dan budaya. Ciri khas tarian ini sering kali dikaitkan dengan budaya Jawa Barat, meskipun memiliki nuansa dan karakteristik tersendiri.

Baca juga :  Banyak Tanah Wakaf Bermasalah, BWI Kumpulkan Stakeholder Wakaf

Namun, lanjut Yogi pengembangan tarian tersebut berbeda yang menekankan pada variasi gerak.

“Hasil analisis dan survey mandiri yang di lakukan menunjukkan bahwa fokus utama dari pengembangan ini adalah ragam gerak,” katanya.

Yogi mengatakan terkait ragam gerak, setiap individu yang terlibat dapat mengembangkannya menjadi sesuatu yang baru. Tidak hanya menciptakan sebuah tarian, melainkan menghadirkan berbagai variasi gerak.

“Artinya, ketika kita berbicara ragam gerak, siapapun dari ragam gerak itu bisa mengembangkannya menjadi sesuatu hal yang baru. Kami tidak menciptakan satu buah tarian, tapi kami menciptakan ragam gerak. Yang mudah-mudahan ini bisa dimanfaatkan oleh seluruh stakeholder, oleh seluruh sanggar, utamanya mungkin para penari. Walaupun ini masih jauh dari sempurna, masih banyak yang harus dipercayai atau diperbaiki,” ujar Yogi.

Atas itu, Yogi berharap ragam gerak ini dapat dimanfaatkan oleh seluruh pemangku kepentingan, sanggar-sanggar tari , dan terutama oleh para penari.

“Meskipun karya ini masih jauh dari sempurna dan banyak yang perlu diperbaiki, percaya ini adalah langkah awal yang positif,” katanya. (Adv)