BBC, Serang – Dalam rangka milad ke-44, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sultan Ageung Tirtayasa (FKIP Untirta) kembali menggelar Festival Banten Girang, 2-9 Mei 2026.
Dekan FKIP Untirta Fadlullah menyampaikan festival ini menjadi cara kreatif untuk menghidupkan kembali ingatan dengan bahasa kekinian. Sehingga melalui kegiatan tersebut sejarah terasa dekat, hidup, dan relevan.
“Apalagi nama Banten Girang menyimpan kedalaman makna yang merujuk pada situs awal peradaban Banten, sebelum tumbuh menjadi Kesultanan Banten yang besar dan berpengaruh. Dari titik inilah jejak sejarah bermula, lalu berkembang menjadi identitas yang kita kenal hari ini,” ungkap Fadlullah, Rabu 6 Mei 2026.
Fadlullah menjelaskan Festival Banten Girang pada tahun ini mengusung tema besar Visioner: Hilirisasi Tradisi, Inovasi, dan Konservasi. Tradisi tidak lagi berhenti sebagai warisan atau simbol semata.
“Melainkan diolah, dihidupkan, dan diarahkan menjadi inovasi, peluang ekonomi, hingga solusi keberlanjutan. Bagi Gen-Z, ini pesan tegas bahwa budaya bukan beban, tetapi kekuatan,” jelas Fadlullah.
Pada momentum tahun kedua, Fadlullah melanjutkan Festival Banten Girang menguatkan arah dengan menekankan isu strategis yakni ketahanan pangan dan daya saing bangsa. Tradisi tidak hanya dirawat, tetapi diproyeksikan menjadi kekuatan produksi, inovasi lokal, dan kemandirian ekonomi.
“Ini langkah konkret agar budaya berkontribusi langsung pada masa depan Indonesia. Di titik inilah Gen-Z tidak lagi sekadar hadir, tapi mereka didorong untuk menjadi aktor utama perubahan,” katanya.
Sedangkan yang membuat festival ini berbeda, Fadlullah menambahkan terdapat tiga lapisan yang berpadu kuat. Ada dimensi akademik dari milad kampus, dimensi kultural dari spirit Banten Girang, dan dimensi sosial-ekonomi melalui UMKM serta keterlibatan masyarakat.
“Festival ini tidak eksklusif, tapi inklusif dan hidup di tengah warga. Bukan berdiri jauh dari mereka. Di sinilah terasa nyata, bukan sekadar seremoni,” tegasnya.
Diketahui dalam Festival Banten Girang kedua tahun ini terdapat sejumlah kegiatan seperti turnamen labirin matematika, festival permainan dan makanan tradisional, open lab bagi para guru fisika, pameran pendidikan, kirab budaya hingga kolaborasi antara kampus dan pesantren.






