BBC, Serang – Di tengah dinamika geopolitik global, Kantor Otoritas Jasa Keuangan Jabodebek dan Banten (KOJT) menilai stabilitas sektor jasa keuangan di wilayah Jakarta dan Banten tetap terjaga stabil dengan kinerja intermediasi yang kontributif. Hal ini tercermin juga dari pertumbuhan di masing-masing sektor jasa keuangan di Jakarta dan Banten yang tetap terjaga dengan profil risiko dan likuiditas yang memadai. Perkembangan Pasar Modal Regional Aktivitas investor Pasar Modal mengalami pertumbuhan dari jumlah investor Jakarta yang mengalami pertumbuhan 11,66 persen yoy menjadi 1,56 juta Single Investor Identification (SID) pada Maret 2024.
“Selain itu, perkembangan investor Banten mengalami pertumbuhan 13,16 persen yoy menjadi 757 ribu SID pada Februari 2024,” ungkap Kepala OJK Jabodebek dan Banten, Roberto Akyuwen, Rabu (22/5/2024).
Adapun nilai transaksi bulanan saham oleh investor di Jakarta, kata dia mengalami kontraksi sebesar -11,32 persen yoy menjadi senilai Rp142,76 triliun pada bulan Maret 2024. Ssedangkan nilai transaksi bulanan saham oleh investor di Banten mengalami pertumbuhan sebesar 7,24 persen yoy menjadi senilai Rp14,08 triliun pada Maret.
“Perkembangan Sektor Perbankan Regional Kredit Bank Umum pada Maret 2024 di Jakarta tumbuh 15,83 persen yoy menjadi Rp3,6 triliun, sedangkan kredit/pembiayaan BPR dan BPRS naik 16,11 persen yoy menjadi Rp3,89 triliun pada Maret 2024,” katanya.
Secara mtm, tambah Roberto nilai kredit modal kerja, investasi, dan konsumsi Bank Umum di Jakarta masing-masing sebesar 4,09 persen, 1,89 persen, dan 1,23 persen. Sementara itu,
penghimpunan dana Bank Umum tumbuh 7,35 persen yoy menjadi Rp4,5 triliun pada Maret 2024 sementara penghimpunan dana BPR dan BPRS naik 11,44 persen yoy menjadi Rp4,73 triliun.
“Kredit Bank Umum pada Maret 2024 di Banten tumbuh 9,56 persen yoy menjadi Rp201,81 triliun, sedangkan kredit/pembiayaan BPR dan BPRS naik 17,98 persen yoy
menjadi Rp6,65 triliun. Secara mtm, kredit modal kerja, investasi, dan konsumsi di Banten tumbuh masing-masing sebesar -1,87 persen, 2,01 persen, dan 2,03 persen,” katanya.
Berikutnya, kata dia penghimpunan dana Bank Umum di Banten tumbuh sebesar 9,75 persen yoy menjadi Rp275,13 triliun pada Maret 2024 dan penghimpunan dana BPR dan BPRS tumbuh 13,20 persen yoy menjadi Rp5,53 triliun.
“Kualitas kredit perbankan masih terjaga dengan rasio NPL gross Bank Umum sebesar 1,86 persen di Jakarta dan 1,83 persen di Banten, sedangkan rasio NPL gross BPR dan BPRS di Jakarta adalah 9,66 persen dan di Banten sebesar 7,82 persen,” katanya.
Sedangkan ddkungan Bank Umum terhadap pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Jakarta, lanjut Roberto melalui kredit tumbuh 4,73 persen yoy menjadi Rp223,80 triliun pada Maret 2024. Selain itu, kredit UMKM di Banten tumbuh sebesar 8,28 persen yoy menjadi Rp38,80 triliun.
“Kemampuan debitur di wilayah Jakarta dan Banten pasca pandemi Covid19 terus menunjukkan perbaikan. Hal tersebut tercermin dari terus menurunnya jumlah Kredit yang direstrukturisasi, masing-masing turun -15,91 persen yoy menjadi Rp275,30 triliun pada Maret 2024 (Jakarta) dan turun 12,88 persen yoy menjadi Rp33,30 triliun pada Maret 2024 (Banten),” lanjutnya.
Bahkan, OJK menilai bahwa kondisi perbankan Indonesia saat ini memiliki daya tahan yang kuat (resilient) dalam menghadapi dinamika perekonomian dengan didukung oleh tingkat permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai dan manajemen risiko yang baik.
“Oleh sebab itu, pada 31 Maret 2024, OJK telah mengakhiri kebijakan stimulus restrukturisasi kredit Perbankan sebagai dampak COVID-19,” ucapnya.


































