Oleh : Dian Wahyudi
Ketua DPD PKS Lebak
Selepas isya malam pergantian tahun baru hijriyah saya masih di sekitaran Tanggerang kota, terjebak macet dibeberapa ruas jalan, jalan lebar tidak mengurangi kemacetan malam itu.
Sabar menunggu, Alhamdulillah kemacetan ternyata disebabkan arak-arakan pawai anak-anak santri dan warga di sekitaran kampung, terdapat beberapa kali saya menemui arak-arakan ini, pawai oncor, pawai obor memperingati Tahun  Baru Islam… tak terasa hangat bulir air mata menetes, bahagia, reugreug, di kota besar, kota yang penuh dengan gemerlap malam, kota yang mungkin setiap hari warganya bergelut dengan urusan duniawi masih ada nuansa religius, menunjukan eksistensi sebagai muslim, bahkan serasa melemparkan kenangan kemasa silam, betapa bahagianya, betapa cerianya memperingati tahun baru hijriyah di kampung dengan do’a dan pawai obor seperti yang kembali saya saksikan.
Setelah urusan selesai, baru dini hari saya sampai rumah.
Pagi hari, saya memenuhi janji bertemu dengan salah seorang tokoh Lebak. Cukup lama tidak bertemu dengan beliau, berbilang tahun. Keadaan ternyata cukup banyak merubah beliau. Tampak lebih religius. Beliau berujar, selama hampir tiga tahun cukup banyak belajar mendalami kembali agama Islam, terasing dari pergaulan luar, memberikan kesadaran menginsyafi diri bahwa Allah itu Maha Adil, yang awalnya apa yang beliau rasakan tidak adil menurut beliau. Di mulai belajar al Qur’an dari nol sampai kepada tingkatan bisa membaca, bahkan dapat menghafal juz 30, yang sebelumnya hanya sekedar hafal cangkem qulhu, falaq, anas saja.
Kedepan bahkan beliau ingin menularkan agar saudara-saudaranya di kampung dapat merasakan pula nikmat berada dalam naungan qur’an, dengan mengirim da’i dan mendirikan yayasan.
Hidayah dan meninggalkan hal buruk dimasa lalu, memberikan kita pelajaran bahwa berproses merupakan keniscayaan, Allah lah yang memantaskan.
Sore hari, setelah melewati proses kerokan, sisa masuk angin semalam (hehe), saya memenuhi menyanggupi sedikit memberikan tausyiah kepada ibu-ibu majelis ta’lim, yang dibina ka Unro ketua RW 14 di kampung Pasir Babakan.
Hal yang saya sampaikan, semacam sejarah, proses dan perjalanan Hijrah Rosulullah serta para sahabat, betapa heroik, taruhan harta dan jiwa dalam mempertahankan keimanan, betapa indahnya akhlak kaum muslimin sehingga diterima di negeri Madinah. Berkat peran duta-duta dakwah, dengan penuh kesabaran menjadikan Madinah, yang dikemudian hari menjadi sebuah peradaban Dunia.
Saya sampaikan beberapa nama dan tokoh sentral terkait proses Hijrah. Diakhir tausiyah, saya adakan kuis kecil berhadiah salah satu buku saya. Agak lama mereka menjawab dengan tepat, walau akhirnya terjawab dengan sempurna.
Entahlah, apa karena apa yang saya sampaikan belum bisa dicerna karena cara penyampaian saya, atau karena tema hijrah jarang didengar.
Tema-tema heroik memang cukup banyak dibatasi akhir-akhir ini, bagi saya, kebenaran tetaplah benar walau di kekang penguasa, karena takut juga bukan pilihan. Posisi kita ada dimana sangat diperlukan.
Mengutip harapan seorang tokoh Nasional, Hijrah adalah pilihan dan ketetapan hati untuk mengejar dan mewujudkan cita-cita.. Ketika  pencapaian cita-cita agung tidak bisa dilakukan di suatu tempat atau situasi, itu bukan pembenaran untuk berhenti berusaha..
Hijrah adalah tentang determinasi dalam pencapaian cita-cita agung.. bahwa kita tidak boleh berhenti bergerak dan melompat dalam semua situasi.. sesulit apapun situasi itu..
Karakter determinasi mengajarkan kita untuk tidak pernah menyerah.. dan selalu yakin bahwa cita-cita agung kita pasti bisa dicapai jika kita terus mengejarnya..
Semua ini bisa terwujud jika kita berhijrah, keluar dari bilik-bilik sajadah pribadi, ke luar rumah, dan bahu-membahu berjuang demi kejayaan bangsa. (AK/1-1)
Baca juga :  Peduli Korban Banjir Cilegon, CAP Salurkan Ratusan Paket Sembako