BBC, Lebak – Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy menghadiri silaturahmi dan dialog kebangsaan BNPT RI tentang pencegahan paham radikal dan terorisme di Ponpes Nurul Falah, Rangkasbitung, Lebak, Senin 7/2/2022. Dalam acara yang menghadirkan pembicara utama Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Habib M Luthfi Bin Ali Bin Yahya, Andika mengaku mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai upaya terus menerus bangsa Indonesia untuk memerangi paham radikal keagamaan.

“Kita semua, masyarakat memang perlu untuk terus diberi pemahaman tentang radikalisme dan terorisme,” kata Andika dalam sambutannya. Hadir pada acara tersebut Kepala BNPT RI Komjen Pol Boy Rafli Amar, Anggota Komisi III DPR RI Dapil Banten I (Fraksi Partai Golkar) Adde Rosi Khoerunnisa, dan Ulama Banten KH Abuya Muhtadi Dimyati.

Menurut Andika, paham radikalisme dan terorisme keagamaan di Indonesia sudah merasuk ke seluruh sendi-sendi kehidupan berbangsa. Virus radikalisme dan terorolisme dimaksud kata Andika, berusaha keras dan terus menerus menyusupi anggota masyarakat tanpa memandang golongan sosial, ekonomi, politik, dan usia. “Tentunya yang paling menghawatirkan adalah kalau sudah merasuk menyusup ke dalam pemikiran anak-anak kita, dan lebih mirisnya lagi anak-anak kita mendapati paham itu di dunia pendidikan misalnya,” katanya.

Andika menyebut pemaparan paham radikalisme dan terorisme yang perlu mendapat perhatian serius semua elemen bangsa saat ini adalah yang dilakukan melalui media sosial. Untuk itu, kata Andika, Pemprov Banten mengajak semua stake holder peperangan paham radikalisme dan terorisme di Banten khususnya untuk duduk bersama merumuskan upaya konkrit mencegah pemaparan paham radikalisme dan terorisme melalui media sosial. “Pemprov Banten melalui OPD (organisasi perangkat daerah) terkait siap bersinergi menggelar program pencegahan paham radikalisme dan terorisme di Banten,” kata Andika.

Terkait pemahaman yang diperlukan oleh masyarakat untuk terus diberikan oleh BNPT sendiri, Andika menyebut masyarakat masih belum banyak yang tahu bahwa terpapar paham radikalisme dan terorisme itu kadarnya ada yang ringan, sedang dan berat. “Lebih dari itu masyarakat juga banyak yang tidak sadar kalau dirinya, keluarganya atau lingkungannya sudah terpapar paham radikalisme dan terorisme,” imbuhnya.

Habib Luthfi sendiri dalam ceramahnya mencontohkan nilai-nilai toleransi di Indonesia telah ditanamkan sejak zaman Wali Songo saar menyebarkan Agama Islam di Nusantara. Habib Luthfi mencontohkan Sunan Kudus adalah salah satu dari Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Nusantara dengan menanamkan nilai-nilai toleransi. “Karena waktu itu masyarakat Kudus beragama Hindu yang mensucikan hewan sapi, maka meski sudah banyak meng-Islamkan masyarakat Kudus, Sunan Kudus melarang masyarakat Kudus memotong hewan sapi. “Sampai hari ini tidak ada di Kudus itu yang potong atau sembelih Sapi. Potongnya di Jepara atau dimana. Poinnya adalah nilai toleransinya,” kata Habib Luthfi.

Lebih jauh Habib Luthfi mengatakan, yang menjadi PR (pekerjaan rumah) bangsa Indonesia saat ini adalah bagaimana menanamkan kebanggaan sebagai warga Negara dan bangsa Indonesia. “Coba saya tanya, itu kalau pas kita Nyanyi Indonesia Raya itu kita karena memang cinta atau karena peraturan?” tanyanya.

Padahal menurut Habib Luthfi kebanggaan sebagai bangsa Indonesia harusnya sudah tertanam di setiap sanubari bangsa Indonesia demi mengingat keluhuran dan keagungan peninggalan sejarah dan budaya yang bangsa Indonesia miliki. “Coba itu Borobudur, Prambanan, bagaimana tidak disebut high tech para leluhur kita itu. Meski setiap waktu diguncang getaran dari letusan gunung-gunung yang mengitarinya, tapi candi-candi itu masih berdiri megah sampai hari ini,” paparnya.