BBC, Serang – Dinas Pemberdayaan  Perempuan dan Perlindungan Anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Provinsi Banten terus melakukan upaya deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim atau serviks. Salah satunya dengan menggelar pemeriksaan metode inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) untuk kanker leher rahim dan kanker payudara dengan pemeriksaan payudara klinis (Sadanis), di Sekretariat Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Provinsi Banten, KP3B, Kota Serang, Selasa, 25/4/2017.

Kegiatan ini digagas bekerja sama dengan Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) Kabinet Kerja dan, BPJS Kesehatan, dan Gerakan Masyarakat Hidup Serat (Germas). Ada sebanyak 300 perempuan warga Kota Serang dan Kabupaten Serang menjalani pemeriksaan IVA dan Sadanis dalam kesempatan tersebut.

Turut hadir Anggota Bidang Peningkatan Kualitas Keluarga pada OASE Hj. Martati Amran Sulaiman, Penjabat PKK Provinsi Banten Ny. Neneng Suryani Nata Irawan, dan Kepala DP3AKB Banten Siti Maani Nina, dan dr. Fitria dari BPJS Kesehatan.

Anggota Bidang Peningkatan Kualitas Keluarga pada OASE-KK, Istri Menteri Pertanian, Martati Amran Sulaiman mengatakan, kanker serviks berada di tingkat teratas penyebab kematian pada wanita dibanding jenis kanker lainnya.

Martati mengungkapkan, dari data rumah sakit Sentral Indonesia, menunjukkan terdapat 15.000 pasien baru kanker leher rahim setiap tahunnya, 8.000 di antaranya meninggal dunia. “Secara statistik hampir setiap 1 jam terdapat 1 perempuan yang meninggal akibat kanker rahim,” kata Martati, saat membacakan sambutan Ibu negara, Iriana Joko Widodo.

Lebih lanjut Martati menjelaskan, Kanker Serviks disebabkan oleh penularan Human Papilloma Virus tipe 16 dan 18. Terkait hal tersebut, berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan prevalensi kanker serviks.

Salah satunya, dengan meningkatkan cakupan pemeriksaan deteksi dini terhadap kanker serviks, terutama pada wanita menikah berusia 30 tahun hingga 50 tahun. ”Deteksi dini kanker serviks dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan berkala secara medis,” ucapnya.

Baca juga :  Gubernur Wahidin Halim: Ini Yang Sedang Diselesaikan Pemprov Banten

Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE-KK), yang merupakan gerakan para istri Menteri dari Kabinet Kerja – dalam bidang kesehatan. ”Saat ini program telah dilaksanakan di seluruh 34 provinsi. Capaian deteksi dini masih rendah, yakni 1.925.943 orang atau 5,15 persen dari target 37,4 juta perempuan usia 30-50 tahun,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, masih banyak provinsi yang cakupan deteksi dini kanker serviks dibawah nasional. “Ada ketimpangan antar provnsi. Oleh karena itu banyak yang perlu dilakukan agar cakupan pemeriksaan semakin luas. Deteksi dini membantu mengambil langkah apabila ada gejala kanker, sehingga membantu mengurangi risiko kematian,” tuturnya.

Penjabat Ketua PKK Provinsi Banten, Ny. Neneng Suryani mengatakan, perempuan harus peduli terhadap kesehatannya, terutama permasalahan reproduksi, mulai dari haid sampai kanker serviks. Oleh karena itu menjadi penting deteksi dini. “Kesehatan reproduksi penting diperhatikan, karena penyebab kematian tertinggi wanita adalah kanker serviks dan kanker payudara. Pencegahannya dilakukan skrining. Bisa dilakukan di puskesmas, salah satunya dengan tes IVA. Tes IVA ini bertujuan membantu masyarakat dalam mendeteksi dini kanker serviks,” katanya.

Sementara, Kepala DP3AKKB Provinsi Banten, Sitti Maani Nina mengungkapkan, cakupan deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim sampai 2016 di tingkat nasional adalah sebanyak 1.925.943 orang atau 5,15 persen.

Dari jumlah tersebut Provinsi Bali sebagai cakupan paling tinggi yakni 126.359 orang atau 19,57 persen. Posisi Banten sendiri berada di urutan 8 sebagai provinsi yang cakupannya terendah. Cakupan tertinggi kedua yaitu Provinsi DKI Jakarta sebanyak 201.237 orang (12,09 persen), disusul Provinsi NTB 82,491 (11,42 persen), Provinsi Kalimantan Selatan 46.196 orang atau (7,68 persen), Provinsi Sulawesi Utara sebanyak 25.886 orang (7,54 persen), Provinsi Sumatera Barat 49,082 orang (7,16 persen), Provinsi Jawa Timur 405,626 (6,75 persen) dan Provinsi Bangka Belitung 12.998 orang (6,65 persen).

Baca juga :  Wagub Banten Bahas Penerapan Ahlakul Karimah dalam Tata Kelola Pemerintahan

Sedangkan provinsi dengan cakupan terendah adalah Provinsi Sulawesi Barat sebanyak 2.687 orang (1,49 persen), disusul Provinsi Jambi 7.308 orang (1,46 persen), ketiga Provinsi Maluku Utara 2.161 orang (1,39 persen), Provinsi Sulawesi Tenggara peringkat keempat sebanyak 4.139 orang (1,25 persen), kelima Provinsi Maluku sebanyak 2.625 orang (1,22 persen), keenam Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 7.406 (1,16 persen), Ketujuh Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 11.193 orang (0,98 persen), Kemudian Provinsi Banten di peringkat delapan sebanyak 16.178 orang atau 0,89 persen, sembilan Provinsi Gorontalo 1.112 orangg (0,68 persen), dan Provinsi Papua 3.131 orang (0,68 persen). “Masih harus dipacu untuk terus disosialisasikan agar para wanita memeriksakan diri untuk deteksi dini,” ujar Nina. (1-1)