BBC. Serang – Menjadi petugas kebersihan di lingkungan pemerintah Kota Serang tidak selalu merasakan kesukaan. Melainkan duka kerapkali harus diterima para petugas yang biasa disebut tim oranye ini.
Mengapa tidak, tidak jarang mereka harus menerima perlakukan dari orang-orang di sekitar mereka bekerja. Terlebih saat bukan suci ramadhan seperti ini. Mereka harus tetap bekerja dibawah terik sinar matahari, meski dalam keadaan berpuasa. Salah satunya seperti yang diungkapkan Nurlela, salah seorang petugas kebersihan yang biasa bertugas di sekitar perempatan Pisang Mas-Sumur Pecung tersebut.
“Saya sudah hampir 2 tahun menjadi tukang sapu di sini. Dulu apanya di dinas Tata Kota tapi sekarang sudah pindah ke Dinas Lingkungan Hidup. Banyak suka dukanya menjadi tukang sapu di jalanan. Sukanya terkadang ada yang ngasih saya makanan ringan, sementara dukanya ada juga yang negur saya dan marah-marah ketika saya sedang bersih-bersih jalan,” kata ibu beranak satu itu kepada bukabantennews.com disela menunaikan tugasnya, Kamis, 1/6/2017.
Menurutnya, mesti dalam keadaan berpuasa rutinitas harian itu harus dilaksanakan setiap hari. Bahkan dengan menyandang status sebagai pegawai honorer tidak membuat tugasnya sebagai baban. Padahal upah yang diterima sebesar Rp2 juta/ perbulan dan dipotong untuk kepesertaaan BPJS sebelah Rp50 ribu dianggap masih tidak mencukupi.
“Saya bingung pak, orang-orang mah pada dapet THR, saya mah gajihnya malah dipotong,” ujarnya.
Nurlela menjelaskan, tugasnya sebagai pembersih jalan setiap harinya harus bekerja dalam 2 waktu. Dimana pada pagi hari rutinitasnya di mulai pukul 06.30-10.00 dan pada siang dimulai pukul 13.30-16.00 .
“Harapan saya pemerintah memperhatikan kesejahteraan pegawai seperti saya, dan teman-teman seprofesinya, agar cepat di angkat menjadi PNS,” tukasnya. (1-1)






































